Pages

May 13, 2013

SIAPA YANG LEBIH TERLUKA?

SIAPA YANG LEBIH TERLUKA?

Apa kita sedang berlomba lomba menunjukkan siapa yang lebih tersayat?
apa tidak cukup darah-darah itu bagimu?
apa yang ingin kau munculkan dari kotak biru itu?
apa tak sia sia kau umbar rahasia dalam rahasia?

Bias sekali peran yang kau mainkan
Putih bukan, hitam pun tidak
Sehancur apakah bangunan hidupmu itu?
kau berteriak hancur hingga tersungkur
padahal aku diam diam menjerit sakit

Tidak bisakah kau lihat awan kelabu di mataku
mungkin ini pelangi palsu dalam senyumku
bukankah itu demi menutupi pondasi pencakar langitmu yang sebenarnya akan runtuh?
belas kasih pun  mulai mengeropos karena dilapisi dusta

tak sadarkah kau ciptakan monster dalam batinku?
tapi iman menyisakan seberkas cahaya
menuntun pada yakinnya keadilan sang pencipta
kita ini berputar dalam roda
mungkin pencekik kini sedang tercekik

keprcayaan sudah tercerabut
akuilah kita ini pengecut 
jangan biarkan emosi tersulut
bukankah memaafkan tak kan membuat hati menyusut

biarkan waktu menggerogoti tumor benci di hati kita
menggerus keindahan luka
melumurinya dengan garam dendam dan cuka
jeritkanlah perih itu hingga aku mengiba
aku tak kan tertawa, aku bukan si tega


Sukabumi, 13 Mei  2013




Ballerina Photography

Saya tidak tau persisnya kapan saya menyukai hal-hal yang berhubungan dengan Balet, tapi saya hanya seorang penikmat saja, bahkan saya tidak pernah menonton pertunjukan balet secara live, saya hanya melihat di film atau lewat browsing, sebenarnya saya tak hanya menyukai tariannya saja saya juga senang mendengarkan musik klasik. Ballerina, balet dan musik klasik memang perpaduan yang sangat sempurna, anggun, lembut, gemulai, lincah dan indah :) tapi hanya the black swan yang menurutku memiliki karakter hitam, pasti sulit untuk memainkannya karena balet sendiri kan merupakan tarian anggun, yang nonton film The Black Swan pasti tau kann?...

Berikut ini beberapa fotografi ballerina yang saya temukan di
 devianart





       steelhearted




                                                                       steelhearted 




May 12, 2013

NOSTALGIA PUISI

PAGI

Pagi ini bukan pagi yang akrab asing tetap ku tapaki
rahasia kehidupan nanti
masih tak terkuak
Sedangkan pagi yang kukenal
Bagai mimpi semalam
samar-samar hilang
lalu datang kembali
atas nama kenangan indah
nikmat nian...
saat terputar ulang
hanya kenangan kekal
tak dapat dirasuki tuk keduakalinya dijalani
pagi yang dulu
semua lambaikan tangan untukmu
pagi yang ini
semua menyapamu
dengan warna warni di kampas pagi
sebagai penyongsong awal hari
seberubah pagi pun
kaki tetap menapaki
Sampai jiwa terbang dari raga
dan hidup abadi
di setiap kenangan pencinta

5 Desember  2004


Selamat Tinggal

Rerumputan bergoyang dibelai angin sore
hawa bergerak yang tak nampak
hendak kemana hai angin?
Nyiur ikut melambaikan daunnya
Ia telah lewat
itu yang dirasa
menerobos tubuhku\mengisyaratkan keberlaluannya
selalu bergerak mneruskan pengembaraan

5 Desember 2005



Pelajarilah

Mentari terbit dan terbenam
Bunga mekar lalu layu
Bumi dimandikan hujan
Dunia berwarna warni
Air mengalir , meresap, membeku
Sadarilah!
mereka sebagian peta kehidupan
tak ada yg tak didapat darinya
bacalah alam ini!
Baca..baca...baca!

5 Desember 2005





 Perbandingan

Raut wajah menjijikkan
senyuman merekah menyejukkan
Perbandingan yang tak samar lagi
Aku besar penuh kantong lemak
Dia sempurna bagi kaum hawa
Buruk di pihakku
buruk tetap di pihaknya
bagiku
hanya bagiku

21 Januari 2005




Tak Ada Untaian Kata Terujung

Terulang di cerita sejalan
Tanpa sebuah argumenpun
Tertinggal deretan titik tanya
Tak terjawab
Terlukai coretan kekal
Tiap jengkal hari
Terkadang jatuh
Tegang dan terbang
Tunggui masa pelarianku
Tapi tak kan ada akhir
Tidak pula untaian kata terujung
Tetap dan teruskan titik tanya

Hingga tercipta karya dipengembaraan hidup
Dustalah kalimat terakhirku
12 T, H dan D
10 Dzulhijjah 1425








Bagian 2


2


Sayup-sayup kumandang adzan magrib membuat Lori segera mengingatkanku sholat berjamaah di mesjid terdekat, itulah yang aku sukai darinya, ia disiplin terhadap kewajibannya sebagai seorang muslim. Sejak kuliah tingkat kedua aku sering memperhatikan Lori dengan temanku di kantin kampus, ya fakultas Lori dan aku memang bersebalahan. Aku kuliah mengambil jurusan HI dan Lori mengambil sastra Inggris. Lori sosok perempuan yang misterius, berkali kali aku meminta no Hp nya lewat temanku Gilang, tapi aku tetap tidak berhasil. Akhirnya aku mencoba menarik perhatiannya lewat jejaring sosial, tapi nampaknya Lori sudah punya kekasih, aku melihat foto foto Lori dengan kekasihnya di Facebook. Saat itu aku langsung lemas, seperti kehilangan harapan. Hingga akhirnya setahun kemudian saat aku tidak sengaja membuka akun facebook ku lagi, aku iseng membuka profil Lori. Pemilik nama lengkap Lorina Bahari itu sudah tidak berpacaran lagi dengan kekasihnya, kalau tidak salah namanya Jingga. Tentu saja aku langsung menghubungi Gilang dan meminta no handphone Lori tapi usaha pertamaku tidak direspon juga oleh Lori. Sampai pada suatu hari saat hari wisudaku, aku ke kampus untuk mengambil toga kemudian aku berpapasan dengan Lori di kantin sastra. Tanpa pikir panjang aku memberanikan diri menghampiri Lori.

“Eh lori kan? Temennya Gilang ya? Eh titip ini donk buat Gilang, soalnya gue dari tadi ga ketemu dia, gue sms juga gak dibales” spontan aku mengajak bicara Lori, tanganku langsung berpura pura merogoh tas mencoba mencari cari barang untuk ku titipkan pada Lori.

“hm..iya, nitipin apa ya? tadi sih Gilang masuk kelas” jawab Lori dengan tenang, ia menungguku mengeluarkan barang yang akan aku titipkan padanya sementara aku mencari-cari barang apapun yang sekiranya aku bisa berikan pada Lori untuk Gilang.

“Bentar ya aku cari dulu” ucapku sambil otakku berpikir barang apa yang akan kuberikan dan tanganku terus bergerak mencari ke dalam tas ranselku. Akhirnya aku menemukan flashdisk. Flashdisk penyelamatku hari itu. Aku segera menyerahkan flashdisk itu pada Lori, aku tidak suka dan memang tidak pandai berbasa basi jadi, setelah pertemuan itu Lori langsung pergi dan aku hanya bisa memperhatikannya berjalan menjauh menuju gedung perkuliahan.

Perasaanku saat itu begitu lega karena akhirnya aku bisa menyapa Lori secara langsung dan hal itu memberiku harapan untuk lebih dekat dengannya. Setelah pertemuan tak disengaja itu Lori yang pada awalnya masih dingin berubah menjadi lebih ramah. Aku bisa berjam-jam chatting dengannya dan  itu sangat mengasyikkan. Setelah aku lulus dan kembali ke Jakarta aku membantu mama menguruskan usaha cafĂ©nya yang sudah memiliki dua cabang di Jakarta. Selama setahun aku lebih memilih berkecimpung di dunia bisnis, aku terlalu sibuk dengan bisnisku tapi Lori tak pernah hilang dari hidupku. Kita terus berhubungan, aku semakin ingin mengenal Lori. Buatku Lori berbeda dari perempuan-perempuan lain yang pernah aku temui, dia membuatku penasaran. Bahkan sampai detik ini aku merasa ada sesuatu yang dia tutupi dibalik keceriannya, dibalik senyumannya. Dia adalah pelangi dan aku yakin pelangi seindah itu hadir setelah hujan menerpa hatinya, meski begitu aku tidak akan memaksa Lori berceriita tentang masa lalunya, itu bukan hal penting buatku, yang terpenting justru masa depan kita. Keinginanku menjadikan Lori sebagai pendamping hidup adalah hal yang sangat tepat. Semoga lamaranku di rumah baru ku ini membuat Lori semakin yakin bahwa aku serius ingin meminangnya dan telah mempersiapkan rumah ini untuk masa depan kita.

“Udah wudhunya ya?” Tanya Lori setelah aku berwudhu, mukanya berseri-seri seperti sedang merencanakan hal licik. Ternyata dia akan menyentuh tanganku agar aku berwudhu lagi, kontan aku menghindar dan Lori yang tertawa puas. Jika Ia tak sedang halangan biasanya kita sholat bersama-sama.

“Kok ngehindar si, aku peluk ya hahahah”

“Eh, eh, jangan donk, tar harus wudhu lagi nih”

“Biarin, hahah”

“Ah, Jangan-jangan, aku ga jadi ke mesjid ni, ntar telat lagi agak jauh soalnya”

“iya, iya, yaudah nggak bkal ak sentuh, belum muhrim”

Aku tertwa kecil mendengar candaan Lori dan segera berlari keluar kamar untuk pergi ke mesjid yang butuh sekitar 5 menit berjalan dari komplek perumahan ini.
Semenjak bersama Lori, hidupku semakin membaik. Saat kuliah aku jauh sekali dengan Tuhan, aku jarang sekali menjalankan sholat lima waktu, tapi sekarang Lori selalu mengingatkanku hingga aku merasa malu dan sebagai laki-laki yang akan menjadi suaminya aku ingin menjadi seorang pemimpin bagi Lori, Lori membuatku berubah menjadi sosok yang lebih baik.

May 09, 2013

NOSTALGIA PUISI 2004

Membaca ulang puisi-puisi saat duduk di SMP itu sangat menggelikan, ada puisi untuk cinta monyet, maklum SMP, saat itu aku belum pernah pacaran sama sekali hahah... ada juga puisi untuk idolaku Valentino Rossi, saat ak menggilainya, hm.. ada juga puisi yang ditulis atas permintaan beberapa teman. Jika aku perhatikan diksinya begitu sederhana, tapi aku senang bermain dengan larik dan nada, ah namanya juga bocah haha....
Berikut ini beberapa puisinya,


Terimalah Maafku

Menapaki panjangnya jalan
Sendiri tak berteman
Kurapuh dalam kesendirian
Dan terjatuh
Terjatuh ku menangis
Mengemis maafmu sahabat

Jalanku berujung curamnya jurang
terjal, seterjal hatimu
dalam, sedalam pilunya hati ini
Kurindui gelak tawa kita
Kurindui kebersamaan kita
Sahabat, terimalah maafku.

Sukabumi, 2004 


Ilusi

Sosok pujaan dalam ilusi
Wajahnya kian sendu
Datang mengecup di mimpi
Mendekap bayangannya
Akankah imajinasiku terwujud?

Bibirnya kadang mengucap
Ia bagai air tanpa riak
Dinginnya bak salju abadi
Samudranya tenang
Dialah sosok ilusi yang abadi di hati

Sukabumi, 15 September 2004

catatan untuk puisi ini, saya tulis 2004 dan kemudian ilusi itu benar-benar terwujud paada tahun 2007 hingga sekarang hahahha....tidak seindah yang dibayangkan, dingin itu menyebalkan!!!!! Samudera yang terlalu tenang akan membahayakan kapal yg kau labuhkan, percayalah!!!!! Oleh karena itu berhati-hatilah dengan imajinasimu :)



Sang Juaara 

Di benua Kangguru
Kesatria penunggang kuda besi beraksi
di atas jalanan abu phillip Island
yang menjadi saksi
di sepanjang tepiannya
berjuta pasang mata
menyaksikan dengan cucuran peluh
saat menerjang angin
saat hindari burung camar
saat ombak berdebur
Kesatriaku menjadi yang tercepat
Dikejar dan mengejar
Hingga lewati garis akhir
Ternobatlah juara sejatiku
Pertama untuk dunia
Hari ke 17 di bulan Oktober
2004 Masehi
Sabg flamboyan raih kemenangan
di usia 25 tahun, 17 bulan, 27 hari
bendera garputala berkibar bersamanya

19 Oktober 2004



Akui Saja

Kepolosan sang pendusta
sendu dibalik kepura-puraan
Menuang masamnya bibir
raut wajahnya adalah kejujuran
Membuka kebenaran muram
Akui saja!
mendambakan sang penggantung!
yg menciptakan kegundahan
yg lepaskan satu-satunya pegangan
menggantungkan tali rapuh
aku harap terputus
kenapa tak akui saja?
taburan kebencian pun bertambah
kau tak mau kalah dariku
Untukmu laki-laki itu!
bersama ketampanannya
bersama kedustaannya!
Aku dan dia setara bekas
Akui saja!
Begitu dahsyat maumu
lama-lama sisa cinta akan luntur
ambil saja!
langkah kepercayadirianmu memuakkan!

Sukabumi, 8 November 2004



Kalimat Terakhir

Cemasku tak kukenali
Alasan kosong ku tangisi

Putih hitam saat ku terusik
Malampun tak kuasa bujukku tidur

Amarahku terpendam
Mendapati salahnya diri

Aku tak mampu maafkan diriku
aku lelah berpikir

hilang kesadaran dan hilaf
pilih tuk lukai diri

Secepat cahaya terlintas pesan
Bisikkan murka

Tunukkan jalan pelarian sejati
Kalimat terakhirku "Pagi, aku tak kan bangun tuk senyumi indahmu lagi"

28 Juli 2004



Masih Bagian Pertama




Oh Tuhan, mendengar ucapan itu keluar dari mulut Rio, aku berasa mimpi, bibirku kelu, aku terdiam lama, entah kebahagiaan apa ini, aku baru lulus kuliah, seminggu lagi wisuda, belum sempat melamar kerja sudah dilamar Rio? Aku benar-benar tidak tau harus berkata apa, saking tak percaya.

“Are you kidding me?” aku tertawa terbahak bahak mencoba melepaskan kedua tanganku dari genggaman tangan Rio, tapi Rio malah memegangnya semakin kuat dan ia menciumi kedua punggung tanganku.

“Lori, aku serius” ucap Rio tegas. Matanya yang tajam seperti menusuk ke jantungku, alisnya begitu tegas, idungnya yang mancung, bibirnya yang sudah enam bulan ini berhenti menghisap rokok demi aku, oh Tuhan Rio, tentu saja aku tak mungkin menolak. Saat aku tahu raut wajah Rio melukiskan ketegasan dan keseriusan aku langsung menghentikan tawaku dan mendadak tak bisa menatapnya.

“Yo, kita baru pacaran enam bulan, apa kamu yakin..hm…” ucapanku tergantung, dalam beberapa detik banyak yang menghantui pikranku.

“Ya memang, aku ingin mengenal kamu lebih, ya kita bisa merencanakan dari sekarang kalau kamu memang belum siap, tapi sejak kenal kamu, aku memang berniat mencari pendamping hidup, bukan cuma asal komitmen”

Aku terdiam dan mencoba memberanikan diri menatap matanya, kemuadian Rio mengambil cincin dari saku celananya dan memperlihatkan padaku. Aku tidak perduli itu emas putih berapa gram, tapi filosofi cincin itu membuatku merasa berat menerimanya. Benar-benar dalam waktu yang tepat.

“Lori, maafin aku, aku ga bisa ngelamar kamu di Bali atau di pantai mana pun saat sunset, tapi aku selama ini sibuk terus juga untuk mempersiapkan semua ini, aku pengen nunjukin rumah ini ke kamu buat buktiin aku dah siap lamar kamu, dan aku ingin menata masa depan bareng kamu di sini, jangan ngatain aku gombal ya, aku serius”.

Aku hanya tertawa mendengar ucapan terakhir Rio, aku merasa nyaman dengan Rio, sepertinya aku memang harus memikirkan ini, bukan karena aku ragu padanya tapi aku ragu pada diriku sendiri. Aku taku mengecewakan Rio karena masa laluku, Rio belom mengenalku lebih dalam.

“Aku ga perduli kamu ngelamar aku dimana, ini terlalu sempurna buat aku yo, kamu beru ngenal aku setahun ini, kita baru pacran lebih deket selama enam bulan, aku cuma takut..”

“Jangan bilang takut, aku benci kamu bilang takut, tolong, aku yakin sama kamu, kalo kamu emang belom yakin sama aku, oke aku bkal buktiin dengan apapun”

“Bukan itu yo, aku yakin banget sama kamu, tapi kita perlu waktu”

“iya, kita gak kan tiba-tiba nikah sekarang kok, kita bakal nyari wedding planner dan konsul dulu”

Rio memeluk aku, sementara pikiranku malah melaju lewati lorong masa lalu. Aku berusaha menghalanginya agar tak terlalu jauh menyusuri masa lalu. Aku segera melepaskan pelukan Rio dan mengalihkan pembicaraan.

“iya, iya aku setuju sayaaaang, eh ini dah jam stengah enam, ya ampun kamu belom solat ashar kan? Aku lagi halangan, ih sana cepetan solat dulu”

“oh iya lupa dah ashar. Iya, iya bentar peluk dulu 30 detik.” Rio mencoba memelukku lagi dengan tawa ringannya dan aku menghindari pelukannya sambil tertawa tawa kecil.

Rio pun beranjak masuk ke dalam kamarnya, sementara aku masih betah berdiri di teras itu melihat pemandangan sore yang begitu cantik, tapi sayangnya tak secantik pikiranku, ntah kenapa aku masih memikirkan lamaran Rio ini, aku menatap cincin darinya, aku gembira, tapi seperti ada sisi lain yang membuatku merasa tak pantas untuk Rio, aku merasa terlalu cepat memutuskan untuk terikat dalam lembaga suci seperti pernikahan.

Apa benar aku akan menikah dengan Rio?. Hm…sebenarnya 2 dari 3 sahabat dekatku sudah menikah, mereka Karin, dan Tyra. Karin menikah denga Ferdi yang 5 tahun lebih tua darinya Saat ia masi duduk di semester akhir, sampai sekarang ia masih menyelesaikan skripsi dalam keadaan hamil muda. Tyra, setelah lulus ia menikah dengan Daril karena dijodohkan oleh Papahnya, sekarang Tyra ikut Daril meneruskan kuliah S2 nya di Leiden. Jadi, tinggal aku dan Nuri yang belum menikah, Nuri masih Jomblo dan ia masih ingin meneruskan kuliah kedokteran mengambil spesialis kulit. Tahun 2011 aku sempat sendiri, setahun kemudian aku bersama Rio dan sekarang tiba-tiba dia melamarku. Hidup ini terasa berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin aku lulus SMA dan menjadi mahasiswa baru.

Senja di sini semakin indah, angin lembut membelai wajah dan leherku, aku masih berdiri menatap langit dengan pikiranku yang menjelajahi lorong masa lalu. Jika aku teringat SMA, duniaku seperi langit malam yang dihiasi kembang api, seperti taman dihiasi bunga warna warni, seperti puisi cinta yang hangat, lembut dan bersemangat. Aku mengenal ketiga sahabatku di sana, dan aku mengenal seseorang hingga perjalanan masa laluku tiba di gerbang masa-masa kuliah… tiba-tiba Rio mengagetkanku dengan memeluk tubuhku dari belakang, kehadirannya seperti memutuskan perjalanan waktuku yang tengah asyik di lorong masa lalu.

“I love you” bisiknya, tubuhku yang dingin diterpa angin sore itu tiba tiba menghangat seiring dengan napas yang kubuang pelan-pelan dari hidungku.
Pelukan mendadak dari Rio membuat gerakan kecil di tubuhku sebagai respon terkejut dan perasaan bingung. Tentu saja aku tidak mungkin melepaskan pelukan itu. Pelukan tiba-tiba yang tak hanya menghangatkan tubuhku tapi membuatku merasa aman. Aku merasa Rio memberikan signal agar aku memutar tubuhku tepat dihadapannya dan kemudian membalas pelukannya. Tapi aku tidak melakukannya, aku tak ingin merubah posisiku.
“I love you more” balasku setelah selang beberapa detik kemudian.
Rio menyambut ucapanku dengan pelukan yang semakin erat. Postur tubuhnya yang tinggi membuatku merasakan hembusan nafasnya dibelakang kepalaku dan aku merasakan dia mencium kepalaku dengan menekankan bibirnya agak lama di sana. Saat itu kualihkan pandanganku pada cincin yang menghiasi jari manisku, cincin yang 40 menit yang lalu Rio sematkan di jariku. Oh Tuhan benarkah aku akan menikah dengan Rio??

DADAKU...


Puisi ini aku tulis tahun 2010, cukup lama memang, sudah hampir tiga tahun tertulis dibuku tanpa ada yg membacanya. Mengalami perubahan saat aku tulis kembeli di blog ini :)
Ayo para multitafsir selamat mengapresiasi :)



DADAKU


Aku merasakan dadaku ditikam ribuan ton godam
tapi aku ingin mengeras kejang
aku ingin menahan
hingga mati rasa

berusaha tetap menghirup dan menghembuskan udara
perih panas dalam sembab mataku
tapi aku tetap hidup
untuk menaburkan serbuk serbuk kisah yang kukantongi dalam hati

biar kukemas istimewa dulu
kelak tak sia sia sesak di dada 


26 September 2010